Archive for May 2017
Apa
Isi Stupa Induk Candi Borobudur?
Mungkin telinga kita
sudah gak asing lagi mendengar candi borobudur dan mungkin sebagian dari kamu
sudah pernah berkunjung ke candi yang kemegahannya sudah terkenal di seluruh
dunia dan sempat menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Mungkin juga kalian
bertanya-tanya apa sich yang terdapat di dalam stupa induk candi borobudur.
sebagian ahli sejarah yang pernah kutanya mengatakan kemungkinan dalam stupa
induk ada sebuah arca yang lebih besar dari arca-arca yang lain. taetapi ada
juga yang mengatakan didalam stupa induk ada sebuah batu beasar berlubang yang
berfungsu\i ubtuk menyimpan abu jenazah dari slah satu anggota keluarga wangsa
sailendra jadi candi dibuat untuk menghormati beliau. Banyak
perkiraan-perkiraan tentang apa isi dari stupa induk candi borobudur melalui
cerita ini kita akan menguak rahasia isi dari srupa induk pada candi borobudur.
Orang pertama yang melakukan reset dan penelitian pada candi
borobudur adalah Cornelius pada masa jenderal Raffles tahun 1814 dalam
penelitian tersebut tidak disinggung sama sekali tentang isi dari stupa induk
pada candi borobudur banyak sekali cerita-cerita yang di dapat dari masyarakat
sekitar borobudur yang mengemukakan isi dari stupa induk, ada yang mengatakan
isinya berupa arca emas patung buda yang telah dicuri oleh pencuri dijaman itu
(sekitar tahun 1814 – 1842), da yang mengatakan isi dari stupa induk berupa
arca batu, ada juga yang mengatakan isi dari stupa induk kosong.Seorang
peneliti dan pemimpin pemugaran candi borobudur asal belanda yang bernama Van
Erp dalam laporan pemugaran pada tahun 1931 sebagai Bouwkundige Beschrijving
dari monografi besar candi borobudur menyatakan dalam pemugaran awal stupa
induk candi borobudur terdapat rongga besar yang terdapat di rongga stupa induk
candi borobudur memang dibuat untuk menempatkan sebuah arca induksedangkan
adanya rongga-rongga kecil yang berada di atasnya menjadi petunjuk adanya
peripihan yang bertujuan untuk menyempurnakan dan melengkapi makna candi
borobudur.
Stutterheim seorang pakar peneliti bangunan kuno dan candi
menggali sumber-sumber dari kitap-kitap kuno Jawa Sang Hyang Kamahayanikan
yaitu kitap uang khusus masalah keagamaan Buda Mahayana hasil study dalam tahun
1929 yang berjudul Tjandi Baraboedoer. Naam,Vorm en Beteekwnis menyimpulkan
bahwa arca budha candi borobudur harus terdapat 505 buah arca yang
masing-masing menggambatkan pengejawantahan dari sang budha. Arca yang ada
sekarang terdapat 504 buah archa, sehingga terdapat kekurangan 1 buah arca.
selanjutnya Stutterheim menjelaskan bahwa menurut Sang Hyang Kamahanikan pula
maka di atas segala bentuk kebudaan yang sudah terwajili oleh 504 arca chandi
borobudur masih ada bentuk pengejawantahan yang tertinggi , Maha tunggal dan
tidak nampak yaitu yang disebut Bhatara Budha. Bhatara inilah yang belum ada
wakilnya dalam 504 archa buda, maka kesimpulan dari Stutterheima arca tidak
sempurna (Belum selesai pengerjaannya) yang etrdapat di luar candi dibawah
pohon gobi inilah yang merupakan arca utama yang terdapat pada stupa induk candi
borobudur.
A rca yang tidak sempurna menggambarkan tokoh maha sempurna
dapat diterangkan dari segi kesadaran manuasia akan keterbatasan kemampuan. Ia
tidak mampu menggambarkan apalagi mewujudkan kesempurnaan. hanya saja ia
menyadari bahwa alam semesta itu sempurna karena selalu menampilkan dua unsur
yang berlawanan,ada pria ada wanita,ada langit ada bumi, ada siang adsa malam
dll. dari sini terdapat keseimbangan dan dapat disimpulkan yang namanya
betul-betul sempurna itu bila yang indah diimbangi dengan yang jelek dan yang
lengkap diimbangi dengan cacat. maka arca cacad yang terdaoat atau bertahta di
puncak stupa candi adalah pelengkap mutlak dan harus ada untuk menggambarkan
kesempurnaan dari manifestasi sang Budha Secara menyeluruh.
Serat
Centini menguak rahasia isi Stupa Induk Candi Borobudur
Serat Centini adalah kitab jawa yang ditulis dengan huruf jawa
dan digubah dalam bentuk tembang atau puisi berisi tentang segala macam
pengetahuan yang dimiliki oleh orang jawa pada masa itu: Masalah rumah tangga,
masalah hidup, masalah perkawinan dan kebahagiaan, masaalah watak manusia,
masalah binatang peliharaan, masalah senjata perang atau keris, masalah
falsafah keagamaan sehingga serat centini dianggap sebagai ensiklopedi dan
sumber informasi yang amat penting untuk menggali pemikiran Jawa.memiliki 12
jilid untuk menampung naskah yang terdiri dari 722 pupuh.
Menurut keterangan dari Bubuka, serat centini itu mulai digarap
pada sabtu pahing tanggal 6 suro tahun paksa suci sapda ji yang bertepatan
dengan tahun jawa 1742 atau tahun masehi 1814. dikatakan bahwa penyusun memakan
waktu sebanyak 16 tahun dan selesai dugubah pada tahun 1830, jauh haru sebelum
residen kedu Hartmann mengawali kegiatannya di borobudur. bahan yang
dikumpulkan dalam naskah centini itu sudah ada sebelum borobudur dipugar. oleh
karena itu keterangan tentang arca dalam stupa utama candiborobudur dapt kita
jadikan bukti.
Keterangan yang menarik tercantum dalam pupuh 105 pada halaman
59-60 Jilid II pada bait ke 9-10 serat centini latin yangt berbunyi :
bait 8
” Umiyat kurungan sela, tinarancang alus remit, nglebete
kurungansela, isi rece geng satunggil, nanging panggarapneki, kinten-kinten
dereng rampung, saranduning sarira, katha kang dereng cinawi, kang samya myat
langkung eram ing werdaya
Bait 9
“Mas Cobolang angandiko, Para durunane iki, reca agung tur neng
puncak, teka tan lengkep ing warni, yen pancen durung dadi, iku banget
mokalipun, baya pancen jinarag, embuh karepe kang kardi,mara padha udakarenen
ing driya.”
keterangan:
Nampak sang batu yang dikerjakan halus dan rumit. Sangkar ini
berisi satu buah arca besar tetapi pengerjaannya kira-kira belum selesai.Pada
seluruh tubuhnya banyak yang belum diukir.Mereka yang melihatnya kagum didalam
hati. Mas Cebolang berucap : Bagaimana mungkin ini, arca besar lagipula
dipuncak kok tidak lengkap macamnya. kalau memang belum jadi itu sangat
mustahil. mungkinkah memang disengaja? Entah apa maunnya yang membuat mari kita
renungkan dalam hati.
hal ini membuktikan bahwa memang benar teori yang dikemukakan
oleh Stutterheim bahwa isi stupa utama pada candi borobudur berupa arca budha
yang kondisinya belum sempurna ikal rambutnya belum terpahat, tangan kakinya
masih terlihat kasar ada bekas pahatan,dan ada patahan pada bagian hidung dan
bahu.
Patung dan Stupa Borobudur
Author:
menthokz
12JAN
Berkunjung ke candi Borobudur pastilah kita akan menemui banyak
patung dan stupa, hampir di setiap teras lantai (halaman) pada setiap tingkat
kita akan menemukan berbagai patung Budha dengan berbagai ciri yang melekat.
Keunikan utama candi ini yang dominan adalah tersebarnya ratusan, bahkan
mungkin ribuan patung Budha di seluruh teras/lantai dan relung pada setiap
tingkatan candi (ulasan bentuk candi dijelaskan dalam Stuktur Bangunan Borobudur). Patung yang ada di candi Borobudur terbagi dalam dua lokasi,
yaitu yang berada di teras (halaman) pada lantai 1, 2, dan 3 (tingkatan
Arupadhatu) berjumlah 72 buah dan yang berada di relung-relung candi (tingkatan
Rupadhatu) sebanyak 432 buah, sehingga jumlah total patung yang terdapat di
candi ini adalah 504 buah.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa patung dan stupa
yang terdapat di candi ini merupakan simbolisasi tentang suatu ajaran yang
diaktualisasikan dalam bentuk pahatan/bentukan/ukiran yang tipenya “mungkin”
beraliran dari Mahayana (uraian detil ada di Sejarah Borobudur), akan tetapi menurut beberapa para ahli yang lain aliran yang dianut
pada masa itu adalah adhi budha (awal ajaran budha). Konsep ini mengacu dari
implementasi konsep Budha tertua yang direfleksikan dalam bentuk mudra lima
arah mata angin yang disebut Dhayani Budha, dan diaktualisasikan dalam pahatan
patung budha Aksobhya, Amoghasiddhi, Amitaba,Ratnasambhawa dan Wairocana. Faktor lain yang memperkuat hipotesis ini adalah adanya
aktualisasi latar dan halaman dalam tiga tipe berundak, hal itu
menjelaskan tentang definisi tiga alam, sampai pembuatan sudut lengkung tipikal
stupanya mengikuti bentuk dari alur sinar matahari menyinari khatulistiwa, yang
kemudian disimpulkan menjadi sebuah ilmu pisikologi pada aliran yang pernah
eksis di wilayah kawi puncak (Sutanto, 2005).
Pembagian
posisi dan letak patung Budha yang terdapat di candi ini selengkapnya adalah
·
Tingkat Rupadhatu terdapat 432 arca dengan ukuran semakin ke atas semakin kecil
dan diletakkan pada relung, dengan perincian; teras I sebanyak 104 arca,
teras II sebanyak 104 arca, teras III sebanyak 88 arca, teras IV sebanyak 72
arca, dan teras V sebanyak 64 arca.
·
Tingkat Arupadhatu terdapat 72 arca dengan ukuran yang sama dan diletakkan di dalam
stupa, dengan perincian; teras VI sebanyak 32 arca, teras VII sebanyak 24 arca,
dan teras VIII sebanyak 16 arca.
Secara sepintas seluruh patung Budha tersebut serupa, tetapi
apabila diamati secara lebih detil, maka akan nampak secara jelas perbedaannya,
yakni pada posisi atau sikap tangannya. Sikap tangan inilah yang menjadi ciri
khas pengelompokkan setiap patung Budha di candi ini, ciri ini dikenal dengan
istilah Mudra arah mata angin, yang disebut dengan Dhayani Budha.
Candi Budha Nan Megah Bertabur Sejarah dan
Filosofi Kehidupan
Sejarah
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Candi
Borobudur? Kemegahan, keindahan, serta keunikannya telah membuat Candi yang
dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 – 842 M ini dikukuhkan menjadi
salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan pada tahun 1991 ditetapkan oleh
UNESCO di dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia (World Wonder Heritages).
Candi Borobudur pernah
terkubur oleh lahar dingin letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar tahun 950
M dan baru ditemukan pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia. Gubernur
Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala
berukuran raksasa di desa Bumisegoro, Magelang. Karena minatnya yang besar
terhadap sejarah Jawa (Raffles juga menulis buku History of Java, 1817), maka
Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk
menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak
belukar.
Pemugaran pertama langsung dilakukan oleh
Raffles, yaitu mulai menebangi pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang
menutupi bangunan raksasa tersebut.Karena penemuan itu, Raffles mendapat
penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat
perhatian dunia.Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali.Candi
ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda dan terus dilanjutkan setelah
Indonesia merdeka oleh pemerintah Republik Indonesia dengan bantuan dari
UNESCO. Seluruh proses pemugaran selesai pada tahun 1984.
Keistimewaan
Banyak orang di seluruh dunia menjadikan Candi
Borobudur sebagai tempat yang wajib dikunjungi dalam hidupnya.Banyak teori yang
berusaha menjelaskan asal kata Borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama
ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya
"gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu
terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan
"para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain
ialah bahwa kata Borobudur berasal dari kata bara dan budur. Bara/vihara artinya
kompleks candi dan budur atau beduhur artinya di atas atau bukit. Jadi,
borobudur bisa diartikan sebagai kompleks candi yang berada di atas bukit.
Luas bangunan Candi Borobudur adalah 123 x 123
m dengan tinggi bangunan 34,5 m dan memiliki 1460 relief, 504 Arca Buddha,
serta 72 stupa. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat (melambangkan sepuluh
tingkatan Bodhisattvayang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan
menjadi Buddha).10 tingkat tersebut terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur
sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar, dan sebuah stupa utama sebagai
puncaknya. u
The first six
Candi Borobudur dibangun sebagai perlambang
dari banyak tahapan di dalam teori Budha.Jika dilihat dari atas, Candi
Borobudur berbentuk mandala (bentuk tradisional Budha).Mandala adalah pusat
dari gabungan antara seni Budha dan Hindu.Bentuk dasar dari banyak mandala
Hindu dsan Budha adalah persegi dengan empat titik masuk dan titik pusat yang
melingkar.Baik dari segi eksterior maupun interior, Candi Borobudur
melambangkan tiga zona tingkat kesadaran ditambah satu bidang utama yang
menggambarkan kesempurnaan atau nirvana.
Zona pertama adalah Kamadhatu atau dunia fenomena,
dunia yang dihuni oleh kebanyakan orang, yang bisa juga diartikan dengan dunia
yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Tingkat paling
bawah Candi Borobudur ini tertutup oleh pondasi penyokong bangunan, sehingga
tidak terlihat.Zona Kamadhatu yang tersembunyi ini terdiri dari 160 relief yang
menggambarkan kisah Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat.Relief-relief di
sini menggambarkan hawa nafsu manusia, seperti perampokan, pembunuhan,
penyiksaan, dan penistaan.Beberapa bukti menunjukkan bahwa tingkat dasar ini
ditambahkan pada bangunan asli candi ini. Alasan penambahan bagian ini tidak
100 % pasti, namun sepertinya untuk stabilitas struktur bangunan dan memperkuat
pondasi bangunan atau bisa juga karena alasan religius, yaitu untuk lebih
banyak menutupi konten-konten cabul. Bagian tambahan ini tingginya 3.6 m dan
lebarnya 6.5 m. Sudut bagian bawah yang tertutup ini telah dibuka secara
permanen sehingga pengunjung dapat melihat pondasi yang tersembunyi termasuk
beberapa reliefnya.
Zona 2 Rupadhatu atau dunia transisi,
di mana manusia telah terbebas dari hal-hal duniawi, tetapi masih terikat oleh
rupa dan bentuk.Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam
bawah dan alam atas.Teras persegi Rupadhatu berisi galeri relief
batu pahat, juga rangkaian ceruk yang berisi patung Budha.Secara keseluruhan,
terdapat 328 patung Budha di dalam zona yang juga memiliki banyak relief dengan
hiasan murni ini. Manuskrip berbahasa Sansekerta digambarkan di dalam zona ini
melalui 1300 reliefnya, yaitu Gandhawyuha,Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Relief-relief
tersebut berjejer sepanjang 2,5 km. Pada zona ini juga terdapat 1212 panel
dekoratif.
Zona 3 Arupadhatu atau dunia tertinggi, tempat
tinggal para dewa.Tiga teras yang melingkar ke arah pusat atau kubah stupa
menggambarkan kenaikan ke dunia atas.Teras-teras di sini memiliki ornamen yang
lebih sedikit, dan lebih mengutamakan kemurnian bentuk.Tingkatan ini
melambangkan alam atas, di mana manusia sudah terbebas dari segala
keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai
nirwana.Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup
berlubang-lubang seperti dalam kurungan.Dari luar patung-patung itu masih
tampak samar-samar.Total, ada 72 stupa seperti ini.
Tingkat paling tinggi yang menggambarkan
ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi.Stupa
digambarkan polos tanpa lubang-lubang.

