Posted by : Yohanes Pratitis Tuesday, January 28, 2014

Apa Isi Stupa Induk Candi Borobudur?
Mungkin telinga kita sudah gak asing lagi mendengar candi borobudur dan mungkin sebagian dari kamu sudah pernah berkunjung ke candi yang kemegahannya sudah terkenal di seluruh dunia dan sempat menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Mungkin juga kalian bertanya-tanya apa sich yang terdapat di dalam stupa induk candi borobudur. sebagian ahli sejarah yang pernah kutanya mengatakan kemungkinan dalam stupa induk ada sebuah arca yang lebih besar dari arca-arca yang lain. taetapi ada juga yang mengatakan didalam stupa induk ada sebuah batu beasar berlubang yang berfungsu\i ubtuk menyimpan abu jenazah dari slah satu anggota keluarga wangsa sailendra jadi candi dibuat untuk menghormati beliau. Banyak perkiraan-perkiraan tentang apa isi dari stupa induk candi borobudur melalui cerita ini kita akan menguak rahasia isi dari srupa induk pada candi borobudur.
Orang pertama yang melakukan reset dan penelitian pada candi borobudur adalah Cornelius pada masa jenderal Raffles tahun 1814 dalam penelitian tersebut tidak disinggung sama sekali tentang isi dari stupa induk pada candi borobudur banyak sekali cerita-cerita yang di dapat dari masyarakat sekitar borobudur yang mengemukakan isi dari stupa induk, ada yang mengatakan isinya berupa arca emas patung buda yang telah dicuri oleh pencuri dijaman itu (sekitar tahun 1814 – 1842), da yang mengatakan isi dari stupa induk berupa arca batu, ada juga yang mengatakan isi dari stupa induk kosong.Seorang peneliti dan pemimpin pemugaran candi borobudur asal belanda yang bernama Van Erp dalam laporan pemugaran pada tahun 1931 sebagai Bouwkundige Beschrijving dari monografi besar candi borobudur menyatakan dalam pemugaran awal stupa induk candi borobudur terdapat rongga besar yang terdapat di rongga stupa induk candi borobudur memang dibuat untuk menempatkan sebuah arca induksedangkan adanya rongga-rongga kecil yang berada di atasnya menjadi petunjuk adanya peripihan yang bertujuan untuk menyempurnakan dan melengkapi makna candi borobudur.
Stutterheim seorang pakar peneliti bangunan kuno dan candi menggali sumber-sumber dari kitap-kitap kuno Jawa Sang Hyang Kamahayanikan yaitu kitap uang khusus masalah keagamaan Buda Mahayana hasil study dalam tahun 1929 yang berjudul Tjandi Baraboedoer. Naam,Vorm en Beteekwnis menyimpulkan bahwa arca budha candi borobudur harus terdapat 505 buah arca yang masing-masing menggambatkan pengejawantahan dari sang budha. Arca yang ada sekarang terdapat 504 buah archa, sehingga terdapat kekurangan 1 buah arca. selanjutnya Stutterheim menjelaskan bahwa menurut Sang Hyang Kamahanikan pula maka di atas segala bentuk kebudaan yang sudah terwajili oleh 504 arca chandi borobudur masih ada bentuk pengejawantahan yang tertinggi , Maha tunggal dan tidak nampak yaitu yang disebut Bhatara Budha. Bhatara inilah yang belum ada wakilnya dalam 504 archa buda, maka kesimpulan dari Stutterheima arca tidak sempurna (Belum selesai pengerjaannya) yang etrdapat di luar candi dibawah pohon gobi inilah yang merupakan arca utama yang terdapat pada stupa induk candi borobudur.
A rca yang tidak sempurna menggambarkan tokoh maha sempurna dapat diterangkan dari segi kesadaran manuasia akan keterbatasan kemampuan. Ia tidak mampu menggambarkan apalagi mewujudkan kesempurnaan. hanya saja ia menyadari bahwa alam semesta itu sempurna karena selalu menampilkan dua unsur yang berlawanan,ada pria ada wanita,ada langit ada bumi, ada siang adsa malam dll. dari sini terdapat keseimbangan dan dapat disimpulkan yang namanya betul-betul sempurna itu bila yang indah diimbangi dengan yang jelek dan yang lengkap diimbangi dengan cacat. maka arca cacad yang terdaoat atau bertahta di puncak stupa candi adalah pelengkap mutlak dan harus ada untuk menggambarkan kesempurnaan dari manifestasi sang Budha Secara menyeluruh.
Serat Centini menguak rahasia isi Stupa Induk Candi Borobudur
Serat Centini adalah kitab jawa yang ditulis dengan huruf jawa dan digubah dalam bentuk tembang atau puisi berisi tentang segala macam pengetahuan yang dimiliki oleh orang jawa pada masa itu: Masalah rumah tangga, masalah hidup, masalah perkawinan dan kebahagiaan, masaalah watak manusia, masalah binatang peliharaan, masalah senjata perang atau keris, masalah falsafah keagamaan sehingga serat centini dianggap sebagai ensiklopedi dan sumber informasi yang amat penting untuk menggali pemikiran Jawa.memiliki 12 jilid untuk menampung naskah yang terdiri dari 722 pupuh.
Menurut keterangan dari Bubuka, serat centini itu mulai digarap pada sabtu pahing tanggal 6 suro tahun paksa suci sapda ji yang bertepatan dengan tahun jawa 1742 atau tahun masehi 1814. dikatakan bahwa penyusun memakan waktu sebanyak 16 tahun dan selesai dugubah pada tahun 1830, jauh haru sebelum residen kedu Hartmann mengawali kegiatannya di borobudur. bahan yang dikumpulkan dalam naskah centini itu sudah ada sebelum borobudur dipugar. oleh karena itu keterangan tentang arca dalam stupa utama candiborobudur dapt kita jadikan bukti.
Keterangan yang menarik tercantum dalam pupuh 105 pada halaman 59-60 Jilid II pada bait ke 9-10 serat centini latin yangt berbunyi :
bait 8
” Umiyat kurungan sela, tinarancang alus remit, nglebete kurungansela, isi rece geng satunggil, nanging panggarapneki, kinten-kinten dereng rampung, saranduning sarira, katha kang dereng cinawi, kang samya myat langkung eram ing werdaya
Bait 9
“Mas Cobolang angandiko, Para durunane iki, reca agung tur neng puncak, teka tan lengkep ing warni, yen pancen durung dadi, iku banget mokalipun, baya pancen jinarag, embuh karepe kang kardi,mara padha udakarenen ing driya.”
keterangan:
Nampak sang batu yang dikerjakan halus dan rumit. Sangkar ini berisi satu buah arca besar tetapi pengerjaannya kira-kira belum selesai.Pada seluruh tubuhnya banyak yang belum diukir.Mereka yang melihatnya kagum didalam hati. Mas Cebolang berucap : Bagaimana mungkin ini, arca besar lagipula dipuncak kok tidak lengkap macamnya. kalau memang belum jadi itu sangat mustahil. mungkinkah memang disengaja? Entah apa maunnya yang membuat mari kita renungkan dalam hati.
hal ini membuktikan bahwa memang benar teori yang dikemukakan oleh Stutterheim bahwa isi stupa utama pada candi borobudur berupa arca budha yang kondisinya belum sempurna ikal rambutnya belum terpahat, tangan kakinya masih terlihat kasar ada bekas pahatan,dan ada patahan pada bagian hidung dan bahu.

Patung dan Stupa Borobudur

Author: menthokz
Berkunjung ke candi Borobudur pastilah kita akan menemui banyak patung dan stupa, hampir di setiap teras lantai (halaman) pada setiap tingkat kita akan menemukan berbagai patung Budha dengan berbagai ciri yang melekat. Keunikan utama candi ini yang dominan adalah tersebarnya ratusan, bahkan mungkin ribuan patung Budha di seluruh teras/lantai dan relung pada setiap tingkatan candi (ulasan bentuk candi dijelaskan dalam Stuktur Bangunan Borobudur). Patung yang ada di candi Borobudur terbagi dalam dua lokasi, yaitu yang berada di teras (halaman) pada lantai 1, 2, dan 3 (tingkatan Arupadhatu) berjumlah 72 buah dan yang berada di relung-relung candi (tingkatan Rupadhatu) sebanyak 432 buah, sehingga jumlah total patung yang terdapat di candi ini adalah 504 buah.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa patung dan stupa yang terdapat di candi ini merupakan simbolisasi tentang suatu ajaran yang diaktualisasikan dalam bentuk pahatan/bentukan/ukiran yang tipenya “mungkin” beraliran dari Mahayana (uraian detil ada di  Sejarah Borobudur), akan tetapi menurut beberapa para ahli yang lain aliran yang dianut pada masa itu adalah adhi budha (awal ajaran budha). Konsep ini mengacu dari implementasi konsep Budha tertua yang direfleksikan dalam bentuk mudra lima arah mata angin yang disebut Dhayani Budha, dan diaktualisasikan dalam pahatan patung budha Aksobhya, Amoghasiddhi, Amitaba,Ratnasambhawa dan Wairocana. Faktor lain yang memperkuat hipotesis ini adalah adanya aktualisasi latar dan halaman dalam tiga tipe berundak,  hal itu menjelaskan tentang definisi tiga alam, sampai pembuatan sudut lengkung tipikal stupanya mengikuti bentuk dari alur sinar matahari menyinari khatulistiwa, yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah ilmu pisikologi pada aliran yang pernah eksis di wilayah kawi puncak (Sutanto, 2005).
Pembagian posisi dan letak patung Budha yang terdapat di candi ini selengkapnya adalah
·         Tingkat Rupadhatu terdapat 432 arca dengan ukuran semakin ke atas semakin kecil dan diletakkan pada relung, dengan perincian; teras I sebanyak  104 arca, teras II sebanyak 104 arca, teras III sebanyak 88 arca, teras IV sebanyak 72 arca, dan teras V sebanyak 64 arca.
·         Tingkat Arupadhatu terdapat 72 arca dengan ukuran yang sama dan diletakkan di dalam stupa, dengan perincian; teras VI sebanyak 32 arca, teras VII sebanyak 24 arca, dan teras VIII sebanyak 16 arca.
Secara sepintas seluruh patung Budha tersebut serupa, tetapi apabila diamati secara lebih detil, maka akan nampak secara jelas perbedaannya, yakni pada posisi atau sikap tangannya. Sikap tangan inilah yang menjadi ciri khas pengelompokkan setiap patung Budha di candi ini, ciri ini dikenal dengan istilah Mudra arah mata angin, yang disebut dengan Dhayani Budha.
amoghasidhiMata Angin Utara; Patung yang menghadap arah mata angin ke utara dinamakan Dhayani Budha Amoghasidi, dengan nama mudra Abhaya-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah tangan kiri terbuka dan  menengadah pangkuan, sedang tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut sebelah kanan dengan telapak menghadap kemuka.  Sikap ini melambangkan kondisi manusia yang berada dalam tahapan menenangkan diri.
aksobhyaMata Angin Timur; Patung yang menghadap arah mata angin ke timur dinamakan Dhayani Budha Aksobhya, dengan nama mudra Bhumispara-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah tangan kiri menengadah di atas pangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut sebelah kanan dengan telapak menghadap ke dalam/menelungkup dan jari menunjuk ke bawah.  Sikap ini melambangkan saat Budha memanggil Dewi Bumi, sebagai saksi ketika beliau menangkis semua serangan iblis dan roh jahat.
ratnasambhawaMata Angin Selatan; Patung yang menghadap arah mata angin ke timur dinamakan Dhayani Budha Ratnasambhawa, dengan nama mudra Wara-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah tangan kiri terbuka dan menengadah di atas pangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut kanan menengadah keatas, dan jari-jari menunjuk ke atas.Sikap ini melambangkan kondisi manusia yang memberikan amal dan memberi anugrah.
amithabaMata Angin Barat; Patung yang menghadap arah mata angin ke barat dinamakan Dhayani Budha Amithaba, dengan nama mudra Dhayana-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah kedua tangan diletakkan dipangkuan, yang kanan diatas yang kiri, dengan telapak kanan menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu.  Sikap ini melambangkan kondisi manusia yang sedang mengheningkan cipta dan bersemedi.

Candi Budha Nan Megah Bertabur Sejarah dan Filosofi Kehidupan
Sejarah
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Candi Borobudur? Kemegahan, keindahan, serta keunikannya telah membuat Candi yang dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 – 842 M ini dikukuhkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan pada tahun 1991 ditetapkan oleh UNESCO di dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia (World Wonder Heritages).
Candi Borobudur pernah terkubur oleh lahar dingin letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar tahun 950 M dan baru ditemukan pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia. Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro, Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa (Raffles juga menulis buku History of Java, 1817), maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Pemugaran pertama langsung dilakukan oleh Raffles, yaitu mulai menebangi pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut.Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian dunia.Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali.Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda dan terus dilanjutkan setelah Indonesia merdeka oleh pemerintah Republik Indonesia dengan bantuan dari UNESCO. Seluruh proses pemugaran selesai pada tahun 1984.

Keistimewaan

Banyak orang di seluruh dunia menjadikan Candi Borobudur sebagai tempat yang wajib dikunjungi dalam hidupnya.Banyak teori yang berusaha menjelaskan asal kata Borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa kata Borobudur berasal dari kata bara dan budur. Bara/vihara artinya kompleks candi dan budur atau beduhur artinya di atas atau bukit. Jadi, borobudur bisa diartikan sebagai kompleks candi yang berada di atas bukit. 

Luas bangunan Candi Borobudur adalah 123 x 123 m dengan tinggi bangunan 34,5 m dan memiliki 1460 relief, 504 Arca Buddha, serta 72 stupa. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat (melambangkan sepuluh tingkatan Bodhisattvayang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha).10 tingkat tersebut terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar, dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. u


The first six

Candi Borobudur dibangun sebagai perlambang dari banyak tahapan di dalam teori Budha.Jika dilihat dari atas, Candi Borobudur berbentuk mandala (bentuk tradisional Budha).Mandala adalah pusat dari gabungan antara seni Budha dan Hindu.Bentuk dasar dari banyak mandala Hindu dsan Budha adalah persegi dengan empat titik masuk dan titik pusat yang melingkar.Baik dari segi eksterior maupun interior, Candi Borobudur melambangkan tiga zona tingkat kesadaran ditambah satu bidang utama yang menggambarkan kesempurnaan atau nirvana. 

Zona pertama adalah Kamadhatu atau dunia fenomena, dunia yang dihuni oleh kebanyakan orang, yang bisa juga diartikan dengan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Tingkat paling bawah Candi Borobudur ini tertutup oleh pondasi penyokong bangunan, sehingga tidak terlihat.Zona Kamadhatu yang tersembunyi ini terdiri dari 160 relief yang menggambarkan kisah Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat.Relief-relief di sini menggambarkan hawa nafsu manusia, seperti perampokan, pembunuhan, penyiksaan, dan penistaan.Beberapa bukti menunjukkan bahwa tingkat dasar ini ditambahkan pada bangunan asli candi ini. Alasan penambahan bagian ini tidak 100 % pasti, namun sepertinya untuk stabilitas struktur bangunan dan memperkuat pondasi bangunan atau bisa juga karena alasan religius, yaitu untuk lebih banyak menutupi konten-konten cabul. Bagian tambahan ini tingginya 3.6 m dan lebarnya 6.5 m. Sudut bagian bawah yang tertutup ini telah dibuka secara permanen sehingga pengunjung dapat melihat pondasi yang tersembunyi termasuk beberapa reliefnya.

Zona 2 Rupadhatu atau dunia transisi, di mana manusia telah terbebas dari hal-hal duniawi, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas.Teras persegi Rupadhatu berisi galeri relief batu pahat, juga rangkaian ceruk yang berisi patung Budha.Secara keseluruhan, terdapat 328 patung Budha di dalam zona yang juga memiliki banyak relief dengan hiasan murni ini. Manuskrip berbahasa Sansekerta digambarkan di dalam zona ini melalui 1300 reliefnya, yaitu Gandhawyuha,Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Relief-relief tersebut berjejer sepanjang 2,5 km. Pada zona ini juga terdapat 1212 panel dekoratif.

Zona 3 Arupadhatu atau dunia tertinggi, tempat tinggal para dewa.Tiga teras yang melingkar ke arah pusat atau kubah stupa menggambarkan kenaikan ke dunia atas.Teras-teras di sini memiliki ornamen yang lebih sedikit, dan lebih mengutamakan kemurnian bentuk.Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah terbebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan.Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.Total, ada 72 stupa seperti ini. 

   

Tingkat paling tinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi.Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Borobudur Temple - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -